Isekai Mahou wa Okureteru! Chapter 006 - Kecurigaan Penyihir Istana

Sudah dua hari sejak Pahlawan Reiji menerima tugas untuk menaklukkan Raja Iblis. Penyihir Istana Felmenia Stingray akan mengarjakan Reiji dan Mizuki atas permintaan Sang raja.

Dan sekarang, dia akan mengajakan Reiji.

“Hal ini tidak bisa … guru Pahlawan …” (Felmenia)

Dia bergumam sambil berjalan, tapi di dalam hatinya terdapat kegembiraan. Apalagi, dari semua penyihir senior, dia yang dipilih untuk mengajar Pahlawan yang akan menyelamatkan dunia.

Untuk berpikir bahwa dia yang akan mengajar Pahlawan, dia hanya bisa tertawa. Ini berarti bahwa dia lebih dipercaya dari Penyihir Istana lainnya, dan bahwa Raja memiliki harapan yang tinggi padanya.

“Fufufufu.” (Felmenia)

Dia tak dapat menahan tawanya. Dia senang tidak ada seorang pun di sekitarnya. Dia selalu memiliki pesona yang serius, jika orang lain melihatnya tertawa, itu akan sangat memalukan.

DI samping itu, pada subjek pengajaran, tampaknya bahwa di dunia Pahlawan Reiji sebelumnya tidak ada sihir. Itulah mengapa kami mengajarkan sihir sekarang. Felmenia masih ingat ketika mereka semua dipanggil, dan ketika mereka pertama kali melihat sihir. Dia dengan jelas melihat mata berkilau mereka.

Ketika dia bertanya tentang dunia Pahlawan Reiji, tampaknya sihir tidaklah ada, mereka memiliki ilmu yang dipanggi teknologi yang dapat digunakan semua orang. Itu membantu peradaban dalam berevolusi. Itu sangatlah menarik, jika mereka memiliki waktu, Felmenia ingin mendengarnya lebih banyak.

Dan lalu……..

“Bukankah itu Suimei?” (Felmenia)

Suimei sedang berdiri di koridor.

Suimei Yakagi. Orang biasa, berambut hitam dengan mata yang lembut. Tidak lebih dari itu. Dia menunjukkan kebijaksanaan besar ketika bersama dengan Reiji. Orang itu berjalan di depannya, tapi ternyata dia berjalan menuju tujuan yang berbeda.

Sambil melihat itu, dia berpikir. Tempat yang dia tuju adalah sisi utara Camelia. Tidak ada dapur atau toilet maupun Reiji disana. Kenapa dia menuju arah itu?

(Tunggu … Aku dengar bahwa Suimei selalu bersembunyi di kamarnya setelah sengketa di Ruang Pertemuan.) (Felmenia)

Dia tidak tahu banyak tentang keadaannya karena dia belum bicara banyak dengannya. Dia mendengar bahwa dia hanya pergi untuk pergi ke toilet atau untuk bertemu dengan Reiji dan temannya.

Dia pikir bahwa, karena Suimei dipanggil ke sini tiba-tiba, dia akan takut dan bersembunyi seperti anak kecil.

“Jika demikian, apa yang dia …” (Felmenia)

Bangunan utara adalah tempat yang jarang dituju orang orang. Melihat ini, Felmenia menjadi tertarik.

Kemudian, dia menyadari sesuatu.

(Masih ada waktu sampai pertemuan itu. Lalu, aku kira aku akan melihatnya sebentar..) (Felmenia)

Dan jadi, Felmenia memutuskan untuk mengikutinya. Ini bukan hanya karena dia tertarik, itu juga karena dia memiliki tanggung jawab untuk menghentikannya ketika melakukan sesuatu yang buruk.

Tidak hanya itu, pemuda itu Suimei menjaga rahasia tentang dirinya. Itulah mengapa dia harus melihat pergerakannya.

(Itu benar, ketika kami menyapa mereka, Suimei-dono pasti …) (Felmenia)

Saat itu, dia mencoba untuk menggunakan sihir. Dari ketiganya, hanya dia yang bisa menggunakan sihir. Tidak ada yang melihat ini selain Felmenia.

Namun sihir itu langsung dibatalkan dan Suimei berpura-pura tidak ada yang terjadi. Tapi itu tidaklah salah, itu adalah sihir.

Pahlawan Reiji bilang tidak ada sihir di dunianya. Sebagai gantinya, teknologi tersebar di seluruh tempat dan membantu peradaban. Bangunan berjajar rapi, dan mereka bisa pergi ke bulan.

Tidak ada kebohongan di matanya, juga tidak ada gunanya untuk berbohong. Itulah mengapa, mengapa Suimei bisa menggunakan sihir?

Dan sekarang, pengejaran dimulai. Tentu saja, Suimei tidak menyadarinya. Dia hanya terus berjalan menuju tempatnya yang menarik.

Kemudian, ketika dia berganti arah…

“Tsu ~” (Felmenia)

“Kyaa !?” (Maid)

Ada sebuah jeritan. Tampaknya itu adalah seorang Maid. jeritan itu pasti berasal darinya.

“Maaf, apakah ada sesuatu yang sakit?” (Felmenia)

“Saya yang seharusnya minta maaf. Saya harap saya tidak menyakiti wajah indah Stingray-sama.” (Maid)

“Eh? Wajahku tidak apa-apa.” (Felmenia)

“Lalu, di tempat lainnya?” (Pembantu)

“Tidak. Bahkan tidak ada satupun debu.” (Felmenia)

Setelah melihat sikap berlebihan si Maid, dia tersenyum. Si Maid memasang wajah lega.

“Apakah begitu? Itu bagus.” (Pembantu)

“Lalu, maafkan aku.” (Felmenia)

“Y-Ya!” –(Pembantu)

“Fumu.” (Felmenia)

Itu bukanlah kebijaksanaan yang datang dari usia, tapi itu yang dia pelajari untuk memiliki martabat sebagai Penyihir Istana. Setelah melihat kesalahannya, Maid itu membungkuk.

“Aku-aku benar-benar minta maaf!” (Pembantu)

“Haha, tidak apa-apa.” (Felmenia)

Maid itu membungkuk lagi, tapi, ketika Felmenia ingin pergi, dia tiba-tiba sadar.

“Permisi, bisakah aku bertanya?” (Felmenia)

“Ya, silakan.” (Pembantu)

“Sebelum kita saling bertubrukan, seharusnya ada orang lain yang pergi lewat sini, kau melihatnya?” (Felmenia)

“Eh? Tidak ada seorangpiun selain Stingray-sama.” (Maid)

“Apa?” (Felmenia)

Berbeda dengan Felmenia, setelah mendengar jawabannya si Maid, dia bergumam …

“Apakah ada yang salah?” (Maid)

“Akan kutanya lagi. Apakah benar benar tidak ada orang yang lewat sini?” (Felmenia)

“Ya.” (Maid)

“Kamu tidak berbohong?” (Felmenia)

“Ya, saya bersumpah atas Dewa Alshuna. itu persis seperti yang saya katakan pada Stingray-sama.” (Maid)

Felminia mengancam Maid itu, dan Maid itu menjawabnya meskipun dia tahu bahwa Felmenia tidak akan menggunakan kekuatan fisik. Dan kemudian, Felmenia memutuskan.

“Tidak ada cara kamu untuk tidak bertemu siapa pun. Sebelum kita jatuh, Suimei-dono … Maksudku, teman Pahlawan Reiji lewat sini.” (Felmenia)

“Temannya Pahlawan? Namun, aku tidak bertemu siapapun.” (Maid)

Melihat Maid itu bingung, Felmenia pikir …

“Apa artinya ini …” (Felmenia)

“Hm, Stingray-sama, saya harus pergi ke menara selatan …” (Pembantu)

“Ah, tidak apa-apa, kamu dapat pergi. Maaf untuk mengatakan sesuatu yang aneh.” (Felmenia)

“Baiklah, maka, aku akan pergi.” (Pembantu)

Pelayan membungkuk dan pergi.

(……) (Felmenia)

Felminia kebingungan, dia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi Suimei menghilang setelah berbelok. Itu adalah misteri.

(Hm, masih ada waktu, mari kita melihat ke dalam.) (Felmenia)

Sambil berjalan, dia tidak bertemu dengan siapa pun.

Ketika dia tiba di menara utara, dia terkejut.

(Ap….) (Felmenia)

Dia menemukan pintu itu terbuka, seharusnya tidak ada siapapun yang datang ke sini. Tidak hanya itu, pintu ini juga telah disegel. Itu membutuhkan sihir khusus untuk membukanya dan juga……… Seorang yang mengetahui mantra sihirnya adalah Sang Raja, Pemimpin Penyihir Istana dan aku.

Tidak ada jejak Sang Raja atau Pemimpin Penyihir telah ke sini, maka mengapa itu terbuka?

Felmenia menghapus kehadirannya dan pergi ke pintu. Karenak rangakaian kejadian ini, dia menjadi sangat gugup.

Felmenia berdiri dan mengintip ke dalam. Dia hanya bisa melihat sosok yang berdiri di sana, yang membawa dua barang, buku catatan tentang pemanggilan, yang jarang terlihat di Astel, dan sesuatu berbentuk sillinder.

(Seperti yang kuduga …) (Felmenia)

Dia tidak tahu bagaimana dia bisa membuka pintu, tapi fakta bahwa dia ada di sini, itu jelas bahwa dia Seorang Penyihir. Tapi…..

(Gu- Apa yang harus kulakukan bisakah aku masuk sekarang??) (Felmenia)

Tempat ini adalah ujung bagi lelaki itu, normalnya Felminia akan langung muncul. Namun ini adalah temannya Pahlawan, terlebih lagi dia seorang penyihir. Tentu saja Felminia yakin dia dapat meringkusnya, namun ini adalah temannya pahlawan. Itu akan menjadi keributan besar. Bagaimana jika penaklukan Raja Iblis dibatalkan karena ini?

Dia tidak bisa memutuskan. Tapi aku ingin tahu, apa yang dia lakukan …

(Kukira dia meneliti tentang pemanggilan, tapi …) (Felmenia)

Tapi mereka berdua adalah penyihir, jadi dia bertanya-tanya mengapa lelaki itu berkeliaran … biasanya untuk menganalisis lingkaran sihir, penyihir perlu berdiri di sana dan menganalisis lingkaran itu. Dia tidak bisa melihat lelaki itu sebagai apa pun kecuali orang normal yang tidak tahu tentang sihir dan tidak yakin apa yang akan dilakukannya.

Tapi, lingkaran pemanggilan itu sendiri adalah sesuatu yang kami sendiri tidak mengerti, kami hanya bisa menggunakannya. Tak ada seorangpun yang mengerti itu. Pada akhirnya, Felmenia bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya ataupun bergerak. Dan setelah melihat perilaku aneh Suimei. Sebaliknya, dia memutuskan untuk pergi ke pertemuan.

“Tentang teman Pahlawan Reiji?” (Raja Almedias)

Felmenia kini berdiri di depan Sang Raja di Ruang Pertemuan. Alasannya tentu saja, Suimei. Setelah hari itu, dia mencoba untuk mengawasinya.

Dan sekarang, dia bermaksud agar Sang Raja sendiri yang menanyakan itu. Sang Raja kebingungan, sementara itu Felmenia berlutut dan hanya mengangguk.

“Ya. Itu benar.” (Felmenia)

“Apakah itu Mizuki Anou?” (Raja Almadias)

“Tidak, itu yang satunya, Suimei.” (Felmenia)

Sang Raja menyipitkan matanya.

“Dari apa yang kutahu, dia adalah seorang yang bersembunyi di kamarnya dan tidak pernah keluar.” (Raja Almadias)

“Tidak. Dia benar-benar telah meninggalkan ruangan untuk beberapa kali.” (Felmenia)

Ini adalah hasil dari penyelidikan Felmenia. Dia menemukan bahwa Suimei telah keluar beberapa kali. Dan tentu saja, tak seorangpun yang tahu. Bertentangan dengan tipuannya, dia sebenarnya cukup aktif.

Mendengar itu Sang Raja mengeluarkan suaranya.

“Aku tidak mendengar itu dari siapa pun.” (Raja Almadias)

“Itu karena pengasingannya yang spesial, dia bergerak secara rahasia.” (Felmenia)

“Tidak ada seorangpun yang melihatnya?” (Raja Almadias)

“Saya duga, saya satu-satunya yang mengetahui itu.” (Felmenia)

Itu benar, tak ada seorangpun yang mengetahui itu. Ketika dia bertanya pada orang lain, mereka bersikeras bahwa Suimei tidak pernah keluar.

“Lalu, kenapa hanya kamu tahu?” (Raja Almadias)

“Saya hanya kebetulan bertemu dengannya di jalan. Tampaknya, dia menggunakan sihir ketika tidak ada orang.” (Felmenia)

“Sihir? Apakah itu sesuatu yang kamu ajarkan padanya?” (Raja Almadias)

“Tidak. Ini sesuatu yang dia tahu sebelumnya.” (Felmenia)

Sang Raja membuat wajah tak percaya.

“Tapi, aku dengar tidak ada sihir di sana. Sihir hanya sesuatu dari fantasi di dunia Pahlawan Reiji.” (Raja Almadias)

“Saya juga menduga itu. Tapi itu benar bahwa Suimei-dono menggunakan sihir.” (Felmenia)

“Lalu, apa Pahlawan Reiji berbohong?” (Raja Almadias)

“Tidak, saya tidak berpikir begitu.” (Felmenia)

Tidak. Ini bukanlah bohong. Memang benar bahwa pahlawan Reiji memiliki bakat sangat tinggi untuk sihir, tapi dia tidak tahu sihir sebelumnya. Dan Sang Raja percaya itu.

“Saya percaya itu, namun …” (Raja Almadias)

“Mengapa ada perbedaan dalam cerita mereka … benar?” (Felmenia)

“Anak itu sendiri menyembunyikan sihirnya, dan Sang Pahlawan tidak tahu tentang sihir sebelumnya.” (Raja Almadias)

Seperti yang diduga, Sang Raja juga memiringkan kepalanya. Sihir di sini adalah teknologi. Sihir tak terpisahkan dari kehidupan. Sihir juga memungkinkan orang untuk berkembang. Bahkan jika itu tidak diketahui ada, itu seharusnya tidak berbeda dari teknologi dalam hal kegunaan.

“Yang Mulia, mungkin ada situasi kompleks di dunia lain, tapi sekarang……..” (Felmenia)

“Masalahnya, mengapa dia melakukan sejauh itu untuk menyembunyikan kegiatan dan sihirnya?” (Raja Almadias)

“Ya.” (Felmenia)

“Pergerakan mereka tidak dibatasi, dan sejak dia hanya datang ke dunia ini, tidak seharusnya dia menyembunyikan itu. Lalu mengapa? Tidak ada alasan untuk … ” (Raja Almadias)

Itu benar, dia adalah teman pahlawan. Raja bahkan memerintahkan seluruh istana bersikap ramah dengan mereka dan bekerja sama. Tapi…

“Masalahnya adalah, ke mana Suimei-dono pergi … ” (Felmenia)

“Ke mana itu?” (Raja Almadias)

“Ruang Arsip. Dia telah membawa kembali beberapa buku dari sana.” (Felmenia)

“Hoh? Saya pikir dia hanya bersembunyi di kamarnya, berpikir bahwa dia pergi ke sana, sejak dia tidak dapat kembali, dia mungkin mencoba untuk mencari informasi.” (Raja Almadias)

Ketika Sang Raja mendengar ‘ruang arsip’, dia terkejut tapi kemudian dia hanya mengangguk. Dia berpikir bahwa Suimei tidak ingin kalah dengan keanehan panggilan, dan ingin belajar. Sang Raja mengaguminya sedikit. Itu benar, namun tidak lebih.

“Tidak. Ada juga bukti bahwa dia pergi ke ruang terlarang.” (Felmenia)

“A-Apa? Tapi, itu tidak mudah untuk masuk ke sana … ” (Raja Almadias)

Itu adalah tempat di mana data historis penting tersimpan. Oleh karena itu, dilarang dan di luar jangkauan masyarakat.

“Selain itu, dengan mudah …” (Felmenia)

“A-, maka dia hanya pergi keluar dan kembali kesana kan?” (Raja Almadias)

Felmenia mengambil napas dan melanjutkan …

“Bahkan ke ruang pemanggilan.” (Felmenia)

“Itu tidak mungkin. Satu-satunya orang yang bisa masuk itu Aku, Pemimpin Penyihir dan kamu.” (Raja Almadias)

“Ya. Tapi, entah bagaimana, Suimei bisa membukanya.” (Felmenia)

Atmosfer menjadi berat. Pintu itu dilapisi dengan beberapa sihir tanah. Hanya orang yang memiliki pemahaman besar dari atribut tanahlah yang dapat membukanya. Itu menunjukkan sejauh mana sihir Suimei ini.

“Apa yang dia lakukan di sana …? Ah itu pertanyaan bodoh untuk ditanyakan, ya … Apakah dia meneliti upacara pemanggilan?” (Raja Almadias)

“Saya tidak tahu, tapi saya pikir itu benar.” (Felmenia)

“Dia sangat ingin kembali, ya …” (Raja Almadias)

Sang Raja memiliki perasaan tertekan, dia merasa bersalah telah memanggil mereka tanpa persetujuannya. Seorang Raja yang sangat baik. Tampaknya, Sang Raja menentang Pemanggilan Pahlawan ini, dia tak ingin melibatkan orang lain yang tak ada hubungannya dengan ini. Dia ingin mereka berhasil dengan kekuatan mereka sendiri, namun mereka akan menghadapi banyak situasi seperti ini dan dunia akhirnya akan hancur.

“Lalu, Felmenia, mengapa kamu tidak melakukan sesuatu tentang hal itu?” (Raja Almadias)

“Ya. Saya mendekatinya dengan keputusan saya sendiri, dan jika dia menyebabkan kegemparan … ” (Felmenia)

“Begitu. Memang benar bahwa mungkin akan ada keributan.” (Raja Almadias)

“Ya. Dan informasi tersebut masih belum cukup.” (Felmenias)

Itu benar, informasi ini masih tidak bisa diandalkan. Itu bisa menjadi kesalahpahaman. Itulah mengapa Felmenia hanya berbicara kepada Sang Raja.

“Itu benar. Kamu akan mengambil tindakan bila sesuatu terjadi, kan? ” (Raja Almadias)

“Ya, tentu saja.” (Felmenia)

Itu sudah jelas. Itulah mengapa dia sangat memperhatikan ini.

“Dan lalu, apa kamu telah membicarakan hal ini pada orang lain?” (Raja Almadias)

“Tidak. Saya hanya berbicara tentang hal itu kepada Anda, Yang Mulia.” (Felmenia)

“Bagus. Jangan bicarakan hal ini pada siapa pun sampai ini diselesaikan.” (Raja Almadias)

“Baik.” (Felmenia)

Sang Raja ingin tidak seorangpun tahu tentang hal ini, meskipun Felmenia tidak tahu kenapa, dia hanya akan menyetujuinya. Dan kemudian, Felmenia beertanya tentang rencananya.

“Yang Mulia, apa yang harus saya lakukan dari sekarang?” – Felmenia

Dia menanyakan ini karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukan pada Suimei. Namun, dia harus melakukan sesuatu, bahkan jika dia adalah teman pahlawan. Sang Raja memiringkan kepalanya.

“Mu? Bukankah baik-baik saja untuk meninggalkannya? Dia tidak ingin diganggu. Itu sebabnya dia melakukannya diam-diam. Selama dia tidak berniat untuk melakukan sesuatu yang buruk. “(Raja Almadias)

“Tapi, itu adalah tempat yang terlarang …” (Felmenia)

“Karena dia sudah pergi ke sana, itu sudah tidak bisa di apa-apakan lagi. Hanya ada buku penting dan peta, tidak ada yang bisa dilakukannya dengan itu semua.” (Raja Almadias)

Memang benar bahwa itu tidak berguna karena dia dari dunia yang berbeda, tapi Felmenia masih merasa bahwa keputusan Sang Raja terlalu lembut. Tidak…….

(Apakah itu alasan Yang Mulia tidak ingin ada yang tahu?) (Felmenia)

Jika orang-orang tahu, itu akan menjadi gempar namun jika mereka tidak tahu, itu akan baik-baik saja. Itulah mengapa Sang Raja menyuruhnya untuk tidak memberitahu siapa pun … Keputusan Sang Raja benar. Meskipun dia masih merasa pahit tentang rencana tersebut.

“Lalu, apa Yang Mulia tidak akan mengambil tindakan apapun terhadap dirinya?” (Felmenia)

“Apakah kamu menolaknya?” (Raja Almadias)

“Suimei adalah seorang Penyihir. Harus ada semacam tindakan yang diambil. Saya tahu bahwa itu yang terbaik untuk tidak melibatkan pihak Pahlawan …. tetapi jika membiarkan dia bebas, itu akan mempengaruhi citra Yang Mulia … ” (Felmenia)

“Secara pribadi, aku tidak benar-benar peduli.” (Raja Almadias)

Dari ekspresi Sang Raja, tampaknya dia ingin menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Tapi bagi Felmenia untuk kembali ke sini, itu akan menjadi tidak layak bagi seseorang dengan gelar Penyihir Istana.

“Yang Mulia, ini adalah tindakan kecil, namun saya tidak akan melakukan apapun untuk menakut-nakuti mereka. Jika sesuatu terjadi, saya pribadi yang akan memberitahu Reiji-dono.” (Felmenia)

“Kamu memiliki kepercayaan diri dalam membujuk ya.” (Raja Almadias)

“Bahkan jika itu sebentar, saya masihlah gurunya. Dia tidak akan mengabaikan kata-kata saya.” (Felmenia)

Felmenia memiliki rasa percaya diri, karena dia adalah orang yang mengajarkan Reiji sihir. Jika dia mengatakan bahwa temannya melakukan hal-hal buruk, dia pasti melakukan sesuatu tentang hal itu. Dari pembicaraan mereka, dia tahu bahwa Reiji membenci orang jahat.

Tidak masalah. Itulah mengapa, untuk saat ini …

“Itulah mengapa, saya hanya perlu persetujuan Yang Mulia …” (Felmenia)

Setelah berpikir sejenak, Sang Raja mengeluarkan suara dengan nada serius.

“Tidak” (Raja Almadias)

“Yang mulia! Tapi……” (Felmenia)

“Felmenia, Suimei-dono adalah tamu penting kujuga. Aku tidak dapat mengizinkanmu untuk mengarahkan niat buruk padanya.” (Raja Almadias)

“Saya-Saya tidak punya niat buruk. Saya hanya ingin mengambil tindakan yang tepat terhadapnya yang bebas melakukan sesukanya!” (Felmenia)

Felmenia mencoba membujuk Raja, namun Sang Raja dengan tenang menjawabnya lagi.

“Tidak ya tidak. Mengerti, Felmenia?” (Raja Almadias)

“….” (Felmenia)

“Mengerti?” (Raja Almadias)

“Mengerti.” (Felmenia)

Felmenia mengepalkan tinjunya. Sudah lama sejak sesuatu tidak dapat dilakukannya. Sejak dia menjadi Penyihir Istana, itu sudah lama. lawannya juga seorang Penyihir, yang membuatnya frustrasi. Meskipun dia ditolak, dia hanya akan menjadi marah dan berjanji untuk membuatnya membayar sepuluh ribu kali lipat.

(Belum selesai!) (Felmenia)

Bahkan jika Sang Raja tidak menyetujui itu, dia tidak akan mundur. Ini adalah istana, wilayah Sang Raja. Dia tidak bisa melakukan sesuatu yang dia inginkan di sini. Pada dasarnya, itu akan baik-baik saja asalkan Sang Raja tidak tahu. Dia diam-diam akan menghukum Suimei jika sesuatu terjadi. Ya, ini bisa bekerja. Suimei masih belum melihatnya, dan jika dia melakukannya secara diam-diam, tidak ada yang akan tahu.

Bahkan jika lawannya adalah seorang penyihir dari suatu tempat tidak diketahuinya. Dia tidak bisa membiarkan tindakan kurang ajar di Camelia. Ini tidak termaafkan, dan juga tidak harus dimaafkan. Dari posisinya, ini adalah tanggung jawabnya.

Image Sang Raja, keamanan di Camelia, dia menyatakan dirinya untuk melindung itu semua. Bahkan jika orang lain tidak akan tahu, dia tidak peduli. Dia akan membuat anak kurang ajar itu tahu tempatnya.

“* Sigh * Felmenia masih muda ya …” (Raja Almadias)

Raja Almadias bergumam setelah Felmenia pergi. Dia bisa melihat Felmenia muda akan melakukan sesuatu. Dia tidak akan menyerah. Dia akan melakukan sesuatu tanpa orang lain ketahui. Yah, itu tidak dapat diapa-apakan lagi. Maaf untuk anak itu, tapi aku kira aku hanya bisa memarahinya nanti.

“Kebijaksanaan adalah hal yang sulit ya …” – Raja Almadias

Baru-baru ini, Felmenia telah terlalu sombong. Tidak ketahui apakah itu karena kekuatannya atau tugasnya. Memang benar bahwa dia sangat kuat.

Sang Raja mendesah lagi.
Load Comments
 
close