Hige Wo Soru. Soshite Joshikosei Wo Hirou. Volume 001 Chapter 002 - Biaya Penginapan

“Kamu telah ditolak, Yoshida-san? Kasihan sekali kau ~ ”

Ketika aku menyesap sup miso, Sayu mengatakan seolah-olah itu tidak ada hubungannya dengan dia. Tunggu, sebenarnya, itu tidak ada hubungannya dengan dia.

Aku bermaksud mengusirnya sesegera mungkin, tapi karena suatu alasan dia mulai menanyakan apa yang telah terjadi kemarin, dan untuk beberapa alasan aku menjawab dengan jujur.

"Tidak mungkin kamu mengerti tentang perasaan itu"

“Tentu saja aku mengerti! Ditolak itu menyebalkan, bukan? tapi jangan pikir aku tidak tahu”

"Aku mengerti ..."

Aku menyesap lagi sup miso yang dibikin oleh Sayu selagi kita ngobrol santai.

Sekarang aku pikir tentang hal itu, sudah lama sejak aku minum sup miso non-instan. Anehnya, rasanya enak. Rasa asin dari sup itu adalah bukti dan faktanya bahwa ini 'buatan sendiri' meninggalkan sensasi yang menyengat di dadaku.

Ah, aku benar-benar ingin minum sup miso buatan rumah Gotou-san.

"Bagaimana rasanya?" Sayu bertanya, sambil menyela pemikiranku tentang Gotou-san.

"A-Ahh ... Yah"

"Baiklah ?"

"Semua hal dipertimbangkan, itu baguskan"

"Semua hal dianggap hm?"

Sayu mendecit sedikit, sebelum melirikku dengan nakal.

“Uhm, Gotou-san, kan? Kamu ingin makan sup miso yang dibuat olehnya, bukan ?”

"Tidak .... Tidak terlalu."

Tidak nyaman dilihatnya dengan tatapan itu. Aku buru-buru memalingkan pandanganku darinya, dan dia sekali lagi tertawa dengan nyaring.

"Tepat sasaran. Ternyata pikiranmu sangat mudah dibaca"

"Kamu benar-benar JK yang merepotkan"

Aku merengut dengan cara yang mencolok, tapi Sayu tampaknya juga menganggap hal itu sebagai candaan. Bahunya bergetar ketika dia mulai terkikik.

Bagaimanapun, berbicara dengannya agak memuakkan, atau mungkin memalukan? Aku tidak begitu mengerti.

Dia bisa mengendalikan arus pembicaraan. Aku hanya mengikutinya saja. Membiarkannya mengambil inisiatif tidak membuatku merasa begitu baik.

"Hei, Yoshida-san"

"Uagh-"

Suara muncul tepat di samping telingaku, membuatku melompat kaget. Sementara aku tenggelam dalam pikiran, Sayu entah bagaimana berhasil menempatkan kepalanya tepat di samping kepalaku. Dia menatap mataku dan mendekatkan wajahnya.

"Apa kamu ingin aku menghiburmu?"

Aku bisa merasakan napasnya di kulitku ketika dia mengatakan itu. Merinding bangkit dari tubuhku.

“Bukankah aku sudah memperingatkanmu berhenti melakukan itu ?”

Bibirnya mengerut saat aku mendorongnya menjauh dariku.

"Ehh ~, kamu tidak jujur ​​sama sekali"

“Bodoh. Aku harus menjadi pria yang gila dan sengsara untuk dihibur oleh seorang gadis SMA dengan tubuh kurus seperti milikmu itu"

Mendengar apa yang aku katakan, Sayu mendesha "ehh ~" dan tiba-tiba mulai membuka kancing blazernya, yang kemudian tiba-tiba dilepaskan ke lantai.

“Aku pikir payudaraku cukup besar.” Dia mengatakan itu sambil membusungkan dadanya.

Meskipun pikiranku keberatan untuk tidak melihatnya dengan sekuat tenaga, mataku melihat itu dan terpaku pada apa yang ditunjukkan di balik kemeja itu. Lagipula aku seorang pria.

"Ya-Yah, kamu mungkin cukup besar untuk seorang gadis SMA ... Tapi Gotou-san bahkan lebih dari itu"

"Haha, kamu bilang lebih dari itu"

Sayu terkikik dan mengatupkan dadanya, kembali ke posisi bungkuk sebelumnya.

“Berapa ukuran Cup-nya?” Gadis itu bertanya seolah-olah itu bukan sesuatu yang aneh.

Berapa ukuran cupnya .... itu, berapa ukuran cupnya, ya ?

"A-Aku sebenarnya tidak begitu tahu, tapi mungkin sekitaran F"

"F? Itu sama sepertiku"

“Hah !? Ukuranmu juga F !?”

“Ya. Kalau terlihat lebih besar dari ini berarti harusnya itu G atau H, kan?”

H-cup ..... Apa Gotou-san berukuran H-cup?

Bayangan model gravure dan ukuran cup yang seharusnya terlintas di benakku. 'Sekali saja baik-baik sajakan, aku ingin memegang H Cup'. Aku tidak bisa mengatakan itu.

“Tapi, kau tahu ~”

Sayu mulai membuka mulutnya.

“Bukankah ukuran F yang bisa kau sentuh lebih baik daripada ukuran H yang tidak bisa kamu sentuh?”

Mengatakan itu, dia sekali lagi menjulurkan dadanya dan memiringkan kepalanya.



Aku secara tidak sadar menghela nafasku.

“Hei, apa yang kamu dapatkan dari merayuku? Apa yang akan kamu lakukan jika aku benar-benar mendorongmu?”

"Eh? Maka kita bisa melakukannya secara normal. Aku pikir kamu cukup tampan, jadi aku tidak benar-benar menentangnya”

"... Kamu mau melakukannya denganku?"

Mendengar itu, Sayu mengedipkan matanya beberapa kali.

"Tidak, aku tidak benar-benar bermaksud seperti itu"

"Lalu apa yang kamu inginkan !!"

Aku berteriak di kursiku tanpa berfikir. Aku hanya tak bisa memahami alasan di balik perilaku tidak teraturnya itu.

"Jika kamu tidak ingin melakukannya maka jangan lakukan itu! Ada orang di luar sana yang akan melakukannya, kau tahu?”

Sayu mengangkat alisnya dan memiringkan kepalanya.

"Bukankah itu sebaliknya?"

"Apa maksudmu?"

“Ada seorang gadis yang baik-baik saja melakukannya tepat di depan matamu. Kenapa kamu tidak melakukannya?”

"Hah ...?"

Nafas yang tidak bisa disebut desahan atau keluhan yang membingungkan keluar dari tenggorokanku. Apa usia kita terlalu jauh bagiku untuk mengerti apa yang dia maksud? Tidak, itu tidak benar.

Aku memandangi Sayu seolah menatap alien. Dia menunjukkan senyum masam sebagai tanggapannya.

"Apa masalahnya? Kau yang aneh, bukan? Selama ini, tidak ada yang memperlakukanku dengan serius tanpa permintaan”

"..."

Pernyataannya membuatku tak bisa berkata apapun. Kupikir dia hanya pelarian anak SMA, tapi menilai dari apa yang dia katakan, dia belum pulang selama berbulan-bulan?

Adapun bagaimana dia berhasil menemukan tempat berlindung selama ini, memikirkannya saja cukup tidak menyenangkan.

"... Ya Tuhan, betapa bodohnya dirimu"

Aku bergumam pelan. Aku berjongkok di depan Sayu, sejajar dengan matanya.

"Darimana asalmu? Tunjukkan padaku ID siswamu"

Mendengar itu, ekspresi Sayu berubah suram untuk sesaat.

Namun, pada saat berikutnya, dia tersenyum cerah. Dia memasukkan tangan ke saku roknya dan mengambil dompet yang bisa dilipat. Membuka itu, dia mengeluarkan ID siswa dan menyerahkannya padaku. Aku mengambilnya darinya.

"Ah, Asahikawa ..."

Mulutku ternganga kaget.

Di IDnya tertera 'Asahikawa 6th SMA, 2nd Year'.

“Kamu datang jauh-jauh dari Hokkaido? Sendirian?"

"Ya"

"Kapan kamu meninggalkan Hokkaido?"

"Kurasa,sekitar setengah tahun yang lalu ?"

"Kamu belum pulang selama setengah tahun?"

Ini adalah pusat kota Tokyo, terlalu jauh untuk seorang siswa SMA dari Hokkaido.

"Apa kamu sudah memberi tahu orang tuamu?"

"Nggak"

"Kalau begitu cepatlah berkemas dan pulanglah bodoh ..."

Setelah itu, aku berhenti.

Sayu, yang sudah bertindak ceroboh sampai sekarang, memasang ekspresi yang agak suram.

Pandangannya menatap di suatu tempat yang jauh.

"Tidak apa-apa, mereka mungkin lebih baik tanpaku"

"Bagaimana kau tahu itu?"

"Aku hanya mengiranya"

Saat dia menjawab, aku bisa melihat betapa sepinya dan perasaan cerobohnya muncul di tatapannya.

Aku merasakan sensasi menusuk dadaku.

“Aku kehabisan uang, seperti yang kau lihat? Jadi aku harus melakukan sebisa mungkin untuk tinggal di rumah orang lain. Itu sebabnya aku— “

"Apa yang kau maksud dengan 'Apa yang aku bisa'?"

"..."

Sayu ragu untuk meneruskannya.

Aku bisa merasakan perutku meringkuk marah, yang ditujukan kepada siapa pun secara khusus.

"kau anggap aku apa, huh?"

Aku mengeluarkan apa yang ada di benakku.

"Aku tidak tahu tentang bajingan yang kau temui sampai sekarang, tapi aku tidak tertarik pada tubuhmu"

"Lalu ..."

“Kamu tidak ingin pulang, kamu tidak ingin pergi ke sekolah. Lalu untuk apa kau hidup?”

Mendengar apa yang aku katakan, alisnya mengerut kesulitan.

"Itu sebabnya aku akan menemukan seseorang yang akan membiarkanku tinggal ..."

"Apa yang kamu lakukan jika aku mengusirmu?"

"A-aku entah bagaimana akan mencari orang berikutnya"

"'Entah bagaimana', apa maksudmu entah bagaimana?"

"Itu ..."

Mendengar kalimatku, Sayu sepertinya sudah tiba di jalan buntu karena dia sudah kehabisan kata-kata.

Aku tidak habis pikir bahwa ada pemikiran normal yang akan membuat sesorang berfikir merayu pria sederhana dan tidak dikenalinya. Tidak, pada titik ini, tidak mungkin bagiku untuk mengatakan apa yang 'normal' sebenarnya.

Perasaan yang tidak bisa aku bedakan menjadi kemarahan atau kesedihan berputar didadaku. Untuk menghilangkan perasaan ini, aku mengatakannya dengan tegas.

"Lalu, bekerjalah"

"Kerja??"

"Kau dengar aku. Kamu hanya seorang anak yang putus sekolah, kan? Semua orang hidup dengan bekerja dan mendapatkan bayaran mereka"

"T-tapi—"

Sayu mengatakan dengan suara lembut yang tak terbayangkan dari sikap riangnya beberapa saat sebelumnya.

"Apa yang bisa aku dapatkan dari pekerjaan paruh waktu tidak cukup untuk membayar sewa"

Yah, dia benar tentang hal itu. Bagaimanapun, tidak ada tempat yang akan memungkinkannya untuk tinggal selama beberapa bulan sampai dia mampu membayar, tapi itu tidak seperti dia bisa hidup di jalanan juga.

"Lalu kamu bisa tinggal di sini sambil menyelesaikannya"

"Eh?"

"Aku bilang kamu bisa tinggal di sini"

Mendengar apa yang aku katakan, Sayu berulang kali mengedipkan matanya dengan tidak percaya.

"T-tapi aku belum memberimu apa pun Yoshida-san"

"Jangan katakan omong kosong seperti itu padaku. Aku tidak mengingkan apapun darimu"

Aku meringis dan melanjutkan.

“'Aku tidak punya uang! Aku tidak punya tempat tinggal! Kalau gitu ayo kita merayu seorang pria! ' Itu yang kau pikirkan, kan? Dengar, aku akan memasukan hal itu ke otak bodohmu itu, kau dengar itu ?”

"Kenapa kamu terus memanggilku bodoh—"

“Itu karena kamu bodoh, bodoh! Kamu hanya bocah manja tanpa bisa menilai sesuatu”

Sayu menelan ludah saat dia menerima apa yang aku katakan.

Dilihat dari depan, dia benar-benar imut.

Kenapa pikiran seperti itu berputar-putar dalam pikiranku? Apa karena aku tidak pernah punya sesorang yang layak? Karena aku tidak pernah benar-benar jatuh cinta?

"Kamu tidak punya tempat tinggal, kan?"

"Mm."

"Maka kamu bisa tinggal di sini"

"... Mm"

"Baiklah kalau begitu. Pertama, Kamu harus melakukan semua pekerjaan di rumah. Itu akan menjadi tugasmu sekarang”

Mendengar itu, mata Sayu tampak terkejut.

"Hei, aku pikir bahwa aku bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu"

“Kamu bisa melakukannya di masa depan. Untuk saat ini, menyesuaikan langkah hidup kita satu sama lain lebih dulu. Membiarkanmu berkeluyuran akan merepotkan”

Mulut Sayu membuka dan menutup beberapa kali, ketika dia mencoba mengatakan sesuatu.

Setelah menunggu sebentar dengan cara ini, dia akhirnya berbicara.

"Jadi tidak apa-apa bagiku untuk tinggal selamanya?"

“Selamanya agak berlebihan. Kamu bisa tinggal sampai kamu sudah bosan menjadi pelarian"

"... Jadi maksudmu aku bisa tinggal sampai saat itu?"

Aku tidak yakin bagaimana menjawabnya.

Berdasarkan beberapa menit percakapan terakhir kami, aku dapat mengatakan bahwa gadis ini dimanjakan dengan keyakinan.

Dia menggoda pria dan tinggal di rumah mereka, berkeliaran dari satu tempat ke tempat lain. Meskipun mungkin lebih sulit dari itu, pasti ada jalan yang lebih sehat yang bisa dia ambil.

Untuk digunakan dalam tindakan cabul oleh pria yang bahkan tidak dia sukai. Secara pribadi, aku pikir itu jauh, jauh lebih keras daripada sekadar kerja fisik, tapi mungkin perasaan seperti itu telah menjadi letih setelah sekian lama.

Jika aku katakan padanya bahwa 'kamu bisa tinggal selama yang kamu mau', bukankah dia akhirnya tinggal selama beberapa tahun?

Memilih kata-kata ku dengan hati-hati, akhirnya aku menjawab.

"Paling tidak, aku akan membiarkanmu sampai kamu memperbaiki sifat manjamu itu"

Sayu, agak terkejut, dengan lembut menganggukkan kepalanya.

"O-Oke ..."

Aku menghela napas panjang dan duduk.

Sudah lama sejak aku menjadi sangat marah. Sejujurnya, aku tidak punya hak untuk mengomeli orang lain.

Aku menggenggam semangkuk sup miso di atas meja dan menyeruput lagi.

"Oh, ini sudah dingin"

Meski dingin, sup miso yang dibuat Sayu masih cukup enak.

"Ah, benar juga"

Aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah Sayu.

"A-Apa"

Mengatakan jawab sambil menghindari tatapanku.

Sikap memerintahnya beberapa waktu lalu benar-benar menghilang.

Aku mengacungkan jari padanya dan menyatakan.

"Lain kali kau mencoba merayuku, aku akan mengusirmu"

"A-Aku tidak akan mencobanya lagi ..."

Maka dimulailah hidup bersama yang aneh dari seorang pegawai berusia 26 tahun dan seorang gadis SMA yang melarikan diri.

Memikirkan kembali hal itu, pikiranku tentang betapa sulitnya hidup bersama dengan 'gadis SMA' sudah terlalu naif.

Load Comments
 
close