Hige Wo Soru. Soshite Joshikosei Wo Hirou. Volume 001 Chapter 008 - Mishima Yuzuha



"Mishimaaaa !!" Aku berteriak mengencangkan paru-paruku.

Hashimoto yang ada di sampingku melompat di kursinya, terkejut. Kantor kembali ke kesunyian yang biasa beberapa saat kemudian. Beberapa rekan kerjaku mengalihkan pandangan mereka ke arahku.

Namun orang yang dimaksud dengan santai berbalik ke arahku, memiringkan kepalanya dengan bingung.

"Ada apa-?"

"Jangan ‘ada apa dengan' ke aku !!"

Aku melompat dari kursiku dan berjalan ke arahnya. Rekan kerja yang melihat situasi tersebut memiliki ekspresi "oh, ini lagi" dan kembali ke pekerjaan mereka.

Aku meninggikan suaraku, siap untuk melompatkannya ke tenggorokan Mishima saat dia menatap kosong.

"Aku tidak tahu sudah berapa kali aku katakan ini padamu, tapi periksa pekerjaanmu sebelum mengirimnya"

"Tapi aku sudah melakukannya ?"

"Apa kau sudah persiksa kerjaanmu, pastikan semua fungsi sistem berfungsi, dan mengirimkannya ketika sudah selesai ?"

"Uh huh"

“Jangan kamu‘ uh-huh ’ ke aku !! Kode kau penuh dengan kesalahan ! Bagaimana kau bisa bilang sudah selesai !?"

Karena keterusterangan interogasiku; sepertinya Mishima akhirnya menyadari bahwa aku tidak akan berhenti mendesaknya sampai aku menerima jawaban atas kesalahannya.

Dia membuka mulut karena terkejut, lalu berkata.

"Eh, benarkah ? Kedengarannya agak buruk, bukan ?"

"Jangan memperlakukannya seperti kesalahan orang lain !!"

"Apa yang harus aku lakukan ?"

"Perbaiki. Selesaikan hari ini"

"Meminta hal yang mustahil ~"

Aku bisa merasakan pembuluh darahku akan meledak.

Bagaimana bisa mereka memperkerjakan orang kikuk kayak gini ? Tidak terampil, tidak bertanggung jawab, dan jika harus jujur, bahkan tidak layak dipertimbangkan.

"Proyek ini harus selesai besok, bukankah sudah jelas bahwa kau harus menyelesaikannya hari ini ? Jangan lupa bahwa aku yang harus menyiapkannya setelah kau"

"... Yoshida-senpai, apa kamu akan dipecat jika aku belum selesai hari ini ?"

"Ah ? Yah, aku ragu mereka akan sejauh itu, hanya saja ... "

Aku meletakkan tangan di daguku, dan melanjutkan.

"Aku mungkin dikeluarkan dari proyek ini. Di saat yang sama, tanggung jawab yang melatihmu mungkin akan diberikan pada orang lain"

Menyerahkan tanggung jawab untuk pelatihannya pada orang lain akan menjadi surga dunia, tapi proyek ini adalah sesuatu yang aku mulai, melibatkan banyak rekan kerjaku dalam proses tersebut. Aku hanya tidak bisa membiarkan diriku keluar setengah jalan.

"Eh, kamu tidak akan melatihku lagi ?"

"Itu mungkin terjadi jika kau tidak memperbaikinya hari ini"

Mendengar apa yang aku katakan, Mishima, yang biasanya memiliki senyum malas yang selalu hadir, menunjukkan ekspresi tegas.

"Aku akan memperbaikinya sekarang"

"Ah, hei ..."

Mishima berbalik dan bergegas kembali ke kursinya.

Dia biasanya bergerak di sekitaran kantor seolah-olah itu berjalan-jalan di taman, jadi itu tidak biasa baginya untuk bergegas kembali ke mejanya.

"Ada apa dengannya ...?"

Mengingat interaksiku dengannya umumnya melibatkan aku membentak dan mengomelinya, bukankah hal ini benar-benar nyaman baginya jika orang lain malah melatihnya ?

Jadi kenapa dia menjadi begitu khawatir ketika aku mengatakan padanya bahwa orang lain mungkin ditugaskan kepadanya ?

Nah, jika itu yang diperlukan untuk membuatnya melakukan pekerjaan dengan serius, maka aku kira itu yang terbaik. Aku kembali ke tempat dudukku, aku memiringkan kepalaku sedikit ragu.

"Dia buat masalah lagi ?"

"Entah bagaimana, Dasar dari sistem yang aku buat menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda"

"Cukup mengesankan, bukan ?" Goda Hashimoto.

Terlepas dari komentarnya, Hashimoto tenggelam dalam pekerjaan yang telah aku sampaikan padanya serta kerjaan yang sudah dia punya, jadi dia tidak mengalihkan pandangannya dari monitor bahkan ketika kita berbicara.

"Kurasa, Mishima-chan nampaknya menganggap serius pekerjaannya sekarang"

"Bagaimana kamu bisa memperhatikan semua ini saat kamu bekerja ?"

"Bahkan jika aku sedang melihat PC, aku masih bisa secara samar-samar mengatakan apa yang sedang terjadi di kantor di sudut pandangku. Jika bos yang aku tidak suka datang, aku akan pergi ke kamar mandi"

"Itu cukup cekatan darimu"

Jadi itu sebabnya dia tidak pernah ada ketika aku dihadapkan oleh bos kita tentang sesuatu. Aku harus mencobanya juga. Ayo berlatih memahami situasi di kantor di sudut pandangku.

Saat membuka alat pemrogramanku, aku mengintip Mishima.

Biasanya, dia akan memalingkan kepalanya, melakukan beberapa peregangan, atau semuanya tidak fokus pada pekerjaannya, tapi dia kelihatannya sangat serius hari ini.

"... Ada apa dengannya ?" Aku bergumam ketika kembali ke pekerjaanku.

Bagus bahwa dia menganggap pekerjaannya dengan serius, tapi dia masih kurang dalam hal keterampilan

Meskipun asumsi bahwa kodenya mungkin tidak bisa digunakan dengan cara apa pun membebani pikiranku, aku harus menyelesaikan bagian pekerjaanku.

Dengan desahan ringan, aku mulai mengetik keyboard.


☆ ★ ☆ ★ ☆ ★


"Hehe, makasih atas kerja kerasnya hari ini"

"Mhm ..."

Di sebuah bar dengan suasana yang berisik dan sibuk, Mishima dan aku saling menatap.

Setelah bekerja, satu hal mengarah ke yang lain dan aku akhirnya datang ke sini untuk minum bersama dengan Mishima.

Mishima mengarahkan gelas Cassis-Orange ke bibirnya dan menenggak minumannya sekaligus. Saat aku meneguk gelas bir, sensasi tenggorokanku yang mengering mendadak lebih segar dan menghilangkan rasa lelah ke kepalaku.

"Sungguh, sangat bagus kami berhasil menyesesaikannya tepat waktu"

"BBenar"

Aku mengambil satu teguk lagi dari birku dengan senyum tegang.

Beberapa jam yang lalu.

Dalam kejadian yang mengejutkan, Mishima telah menyerahkan file data yang tidak perlu di revisi apa pun dariku.

Aku sudah menerima bahwa aku harus lembur sampai larut malam untuk melakukan revisi dan memperbaiki kode-kodenya, jadi aku telah menunggunya untuk menyerahkan bagiannya tanpa harapan apapun. Namun, benar-benar bertentangan dengan harapanku, apa yang dia lakukan biasanya terbalik telah menyebabkan mataku terkejut lebar.

Terima kasih pada Mishima yang segera menyeselaikan pekerjaannya sendiri, aku bisa fokus pada pekerjaanku sendiri, dan jadi kita bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari yang diharapkan.

Kemudian, ketika kita pulang, Mishima tiba-tiba bertanya:

"Yoshida-senpai, apa kamu ingin pergi minum ?"

Siapa yang akan berpikir bahwa juniorku, dengan siapa interaksiku sebagian besar terdiri dari aku berteriak padanya, akan mengundangku untuk pergi minum?

Aku sempat khawatir tentang apa yang Sayu akan lakukan untuk makan malam, tapi dia mungkin bisa membuat sesuatu untuk dirinya sendiri. Aku juga meninggalkan sejumlah uang jika terjadi keadaan darurat.

Berpikir bahwa ini seharusnya baik-baik saja sesekali, aku siap menerima undangan juniorku dengan anggukan tegas.

"Sungguh, untuk berpikir bahwa kau akan mampu melakukan semua itu jika kau hanya fokus. Kenapa kamu tidak melakukan itu secara normal ?"

"Fweh"

Mishima merespons ketika dia mengisi mulutnya dengan ayam bakar.

"Fwis fresaus ge krant"

"Hei, telan makananmu sebelum bicara"

Mishima berbicara tidak jelas saat dia melahap ayam itu.

Ketika perasaan ringan kepala yang agak menyenangkan melonjak melalui tubuhku berkat alkohol, aku menatap Mishima, yang sedang mengunyah dengan putus asa.

Rambut cokelatnya yang cokelat memiliki panjang sebahu. Ujung rambutnya rapi dan melengkung ke arah lehernya. Matanya besar dan cerah sementara hidung dan mulutnya agak kecil. Jika aku harus mengatakannya, dia termasuk tipe ‘imut’.

Penampilannya tampaknya sangat dihargai oleh 'orang tua' di antara atasanku, setidaknya, cukup bahwa namanya muncul beberapa kali selama salah satu pesta minumku dengan mereka. Aku cukup yakin bahwa penampilannya merupakan faktor kunci dalam perekrutannya.

Dengan jumlah lulusan baru yang mengejutkan dengan tingkat keahlian yang sama dengan lulusannya, mungkin tidak aneh jika penampilan menjadi faktor penentu lapangan kerja. Mungkin orang-orang tua di perusahaan ingin pencuci mata.

"A-, Ada apa ?"

Pada saat aku menatap Mishima, dia telah selesai melahap makanan di mulutnya, dan sekarang melihat sekeliling dengan gelisah dan gelisah dengan ujung rambutnya dengan cara yang agak tertekan.

"Oh, maaf soal itu"

Menempatkan diri di sepatunya, aku mungkin akan merasa sulit untuk tetap tenang jika seseorang terus menatapku lekat-lekat saat aku sedang makan.

"Aku hanya berpikir bahwa kamu mungkin akan lebih baik diterima jika kamu bisa melakukan pekerjaanmu dengan baik"

"Eh, benarkah ~ ?"

Mishima berkata dengan sedikit cadel.

"Tapi perusahaan tampaknya menunjukkan pilih kasih bagi orang-orang yang tidak bisa bekerja"

"Apa- ?"

Mishima terkikik ketika aku merengut dengan bingung.

"Serius, ini kebenarannya. Sejujurnya, Yoshida-senpai, kamu satu-satunya yang benar-benar memarahiku !"

"Apa yang ada di dunia ini ? Bagaimana dengan para atasan lainnya ? Apa mereka tidak mengatakan apa-apa ?"

Mendengarkanku, Mishima membuat ekspresi yang agak tajam namun keren dan berkata dengan suara yang berani dan dalam.

"'Baiklah, kalau begitu jangan khawatir. Biarkan aku yang menangani sisanya' Itulah yang dia katakan dengan ekspresi sombong di wajahnya"

“Woah, siapa bilang apa? Dengar itu sudah membuatku merasa tidak enak. Jadi siapa yang mengatakannya ?"

"Itu kepala departemen Onozaka"

"Apa apaan itu! Luar biasa !"

Aku tertawa terbahak-bahak, membantingkan tanganku ke meja berulang kali.

Kepala departemen Onozaka adalah 'terkenal' sebagai 'barcode lemari 2D'. Ada contoh di mana PC-nya hang dan dia menyerahkannya ke Hashimoto untuk memperbaikinya. Saat itulah kita telah menemukan bahwa alasan komputer hang adalah karena PC telah menangkap virus ketika mengakses file bertuliskan ‘Kau tentunya akan menerima ini ! Koleksi anime yang dipilih dengan terbaik’. Insiden ini, dikombinasikan dengan gaya rambutnya, memunculkan nama panggilan ini.

Aku telah mendengar bahwa dia mencoba untuk melakukan PDKT dengan beberapa rekrutan baru, tapi aku tidak tahu bahwa Mishima juga salah satu korbannya.

"Begitu, jadi itu Tuan Barcode ..."

"Hei, aku merasa tidak enak memanggilnya itu"

Terlepas dari apa yang dia katakan, tawanya menyarankan sebaliknya.

"Jadi, apa yang sebenarnya kau lakukan? Haruskah aku menganggap bahwa kamu sengaja melakukan pekerjaan yang ceroboh sehingga atasanmu memperhatikanmu ?" Aku menanyakan padanya dengan ekspresi tegas.

Mishima menatapku dengan bingung dan menggelengkan kepalanya.

"Tidak mungkin. Aku tidak peduli tentang mereka yang memperhatikanku"

"Lalu apa rencanamu ? Jika kau bisa melakukan pekerjaan dengan baik, kenapa tidak ?"

"Mhm, aku mencoba memberitahumu ini lebih awal, kau lihat"

Mishima menyesap segelas cassis-orange-nya, dan menghembuskannya dengan keras dari hidungnya.

"Apa yang seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang biasanya pekerja keras ketika mereka berada dalam situasi di mana mereka harus bekerja lebih keras ?"

"... Hm ?"

Aku benar-benar tidak mengerti maksud dari apa yang dia katakan.

"Lalu mereka bekerja lebih keras, bukan ?"

"Lalu bagaimana jika mereka harus bekerja lebih keras dari itu ?"

"Lalu mereka bekerja lebih keras dari itu"

"Ahaha, ayolah, akhirnya mereka akan mati karena semua pekerjaan itu, bukan ?"

Mishima melambaikan tangannya dengan acuh ketika dia memasukkan bawang bombai tusuk sate ke mulutnya.

"Ity karenau akuyu"

"Apa kau keberatan untuk menelannya dulu sebelum bicara !?"

Aku memarahinya dengan sedikit senyum. Mishima buru-buru mengunyah bawang dengan panik.

Setelah menelannya dengan tegukan keras, dia menghembuskan nafas.

"Itu karena aku biasanya tenang, sehingga aku bisa berusaha keras ketika saatnya tiba"

"Sebagai seseorang dari tempat kerja yang sama, kamu harus tahu bahwa kita selalu terdesak waktu karena jadwal dan tenggat waktu di perusahaan kita. Kamu mengatakan bahwa kau akan melakukannya ketika saatnya tiba, tapi jika boleh jujur, hal itu setiap hari"

"Eh, itu tidak benar"

Mishima mendengus ketika dia mengangkat jari telunjuknya untuk menolak.

"Maksudku, tidak ada yang akan berubah di tempat kerja jika aku pergi kan ?"

"Yah, itu karena kamu hanya seorang pemula"

"Hm, kamu tidak salah tapi ..."

Mishima menyipitkan matanya dengan senyum nakal dan melanjutkan.

"Aku tidak berpikir apa pun akan berubah bahkan jika Yoshida-senpai pergi"

"Apa ...."

Aku ingin keberatan, tapi aku belum bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk ditanggapi.

Aku tidak pernah sekalipun mempertimbangkan apa pekerjaan akan tetap berjalan seperti biasa jika aku tidak masuk.

Sejujurnya, aku pikir aku seseorang yang sering diandalkan di tempat kerja. Dalam 5 tahun aku di perusahaan ini, aku telah mengumpulkan beberapa prestasi. Ditambah, proyek apa pun yang pernah aku kerjakan telah menguntungkan perusahaan.

‘Tempat kerja tidak akan berfungsi tanpaku !’ Adalah apa yang ingin aku pikirkan, tapi aku tidak pernah berpikir sebaliknya.

"Hehe, ya, kupikir hal itu masih bermasalah jika kamu tiba-tiba menghilang"

"... Uh huh"

"Aku pikir itu mungkin bermasalah, tapi tidak sejauh yang lain tidak akan tahu harus berbuat apa"

Mishima mengangguk pada dirinya sendiri saat dia melanjutkan.

"Karena itulah, sedikit banyaknya, aku pikir ada kebutuhan bagi orang-orang yang tetap siaga ketika orang-orang yang biasanya bekerja keras kelelahan"

"... Dan itu kamu ?"

"Itu benar ~"

Mishima membuat tanda 'peace' dengan tangan kanannya dan tersenyum.

Aku hanya bisa menghela nafas menanggapi gerakannya yang polos.

"Sebagai atasanmu, aku cenderung mengatakan bahwa kamu harus bekerja dengan baik jika kamu bisa ..."

"Tapi aku melakukan pekerjaanku dengan baik hari ini, bukan ?"

"Yah, kamu tidak salah sih"

Aku menunjukkan senyum tegang dan menghabiskan minuman digelasku.

Aku tidak ingin memarahinya di sebuah bar. Hanya mengetahui bahwa dia setidaknya bisa melakukannya jika dia mencoba sudah cukup baik untuk saat ini.

"Tapi kamu benar-benar orang yang baik, Yoshida-senpai"

Aku merengut menanggapi pernyataannya.

"Aku ?"

"Ya. Maksudku, hanya kamu yang memarahiku dengan serius"

Mishima lalu melanjutkan dengan tatapan keras.

"Maksudku, ini pasti melelahkan untuk memarahi seseorang yang tidak akan melakukannya bahkan jika kamu menyuruh mereka melakukannya"

"Jika kau memahaminya maka jangan suruh aku melakukannya, bukan ?"

"Biasanya, orang hanya akan menyerah dan menilai bahwa 'mereka tidak bisa melakukannya setelah semua' setelah melihat seseorang gagal beberapa kali. Bahkan atasan yang bertindak baik terhadapku melakukan apa yang mereka lakukan karena mereka ingin 'kebaikan' aku lebih menyukai mereka, loh"

Mishima tidak punya sikap plinplan dan ceroboh seperti biasa baginya.

Itu lebih filosofis, jauh, jika tidak agak dingin. Dia bisa membuat ekspresi seperti ini juga, ya.

"Tapi Yoshida-senpai, kamu selalu memberikan segalanya untuk membuatmu marah padaku"

"Itu sebabnya kau tidak pernah belajar"

"Aww, kamu membuatku malu"

"Itu bukan pujian"

Mishima terkikik dan mengosongkan gelasnya.

"Ah, aku mau segelas ini lagi, terima kasih," Mishima memanggil karyawan bar.

Dia juga mengambil gelas kosong saya saat dia meminta gelas lain.

"Apa kamu masih mau minum ?"

"Apa kamu tidak akan pergi ?"

"Yah, kurasa aku bisa menemanimu jika itu kamu"

"Hehe, tolong lakukan"

Tanpa diduga, dia bisa memegang minuman kerasnya.

Jika aku ingat dengan benar, bukankah kau lebih suka koktail dalam hal kadar alkohol ? Jika dia siap memesan segelas kedua secepat ini, itu mungkin berarti dia punya keyakinan pada kapasitas minumnya.

"Ah, melanjutkan di mana aku tinggalkan"

Mishima gelisah dengan ujung rambutnya saat dia melanjutkan.

"Erm ... Bagaimana aku harus mengatakan ini ...?"

Dia tampak sangat gelisah. Apa yang salah dengannya tiba-tiba ? Mungkin dia mabuk ?

Saat aku memandangnya dengan heran, dia mengalihkan pandangannya ke bawah secara turun-temurun dan pipinya tampak memerah.

"Aku tidak ingin orang lain selain kamu, Yoshida-senpai, bertanggung jawab atas pelatihanku"

"Oh baiklah ..."

Kenapa dia begitu malu tentang hal itu ? Cara dia mengatakan itu membuatku merasa malu juga karena suatu alasan, jadi aku jujur ​​ingin ini berakhir.

"Jadi ! Ketika tiba saatnya, aku akan melakukan yang terbaik !"

"Tidak, lakukan yang terbaik secara normal, kan !?"

Saat aku mengangkat suaraku sebagai jawaban, Mishima tertawa terkikik.

Aku kira aku seharusnya tidak mengharapkan dia untuk memberikan semua pekerjaannya mulai saat ini juga.

Tapi, yah, terlepas darinya

Aku melirik Mishima, yang mulai meneguk minumannya lagi.

Yah, mengenalnya lebih baik dan mengetahui bahwa dia sedang memaksa melakukkannya dengan sengaja mungkin lebih baik, dibandingkan dengan hanya melanjutkan siklus di mana aku akan merasa kesal padanya tanpa menyadari apa pun.

Mengendurkan bibirku, aku meneguk bir yang baru saja diisi.

"Oh, omong-omong—" kata Mishima.

"Yoshida-senpai, kamu baru saja bercukur setiap hari, kan ?"

"Ya? Bagaimana dengan itu ?"

"Oh, aku berpikir bahwa kamu mungkin punya pacar atau semacamnya"

"Apa kau bilang ....?"

Memperhatikan dahiku yang melengkung tidak percaya, Mishima melambaikan tangannya bolak-balik di depannya.

"Maksudku, maksudku seperti, kamu dulu bercukur tiga hari sekali kan ? Tapi tiba-tiba saja kamu mulai bercukur setiap hari. Jadi aku hanya ingin tahu apa kamu menemukan pacar atau tidak"

"Kau memperhatikan janggutku sebanyak itu ?"

Mishima sepertinya tersentak karena terkejut, wajahnya dengan cepat memerah.

"Ten-, tentu saja tidak ! Jangan membuatku terdengar seperti ahli fetis janggut atau apa pun !!"

"Hei, aku tidak memanggilmu seorang fetis janggut atau semacamnya"

"Itu karena kau menghabiskan banyak waktu memarahiku ! Jadi aku menghabiskan banyak waktu melihat mulutmu ! Aku tidak punya perasaan aneh atau semacamnya !"

"Ada apa ini dengan perasaan aneh tentang janggutku ?"

Dia beneran tidak punya fetish janggut, kan ?

Aku menghela nafas dengan keras dari hidung, dan menjawab keingintahuannya.

"Aku tidak punya pacar atau semacamnya. Maksudku, aku baru saja ditolak belum lama ini"

Mata Mishima terbelalak karena terkejut, mulutnya terbuka lebar.

Ada apa dengan ekspresinya itu ?

"Eh, kamu ditolak ? Oleh siapa ?"

"Itu Gotou-san"

"Gotou-san !?" Mishima berteriak keras.

Trio pegawai yang duduk di sebelah kita melirik Mishima. Menyadari tatapan mereka, Mishima dengan keras berdeham dan melanjutkan.

"... Apa kamu menyukainya seperti itu ?"

"Apa itu salah ?"

"Jadi, kamu lebih suka yang seperti‘ Boom! Bang! Slam !'?"

"Uh huh"

"Aku mengerti- ..."

Mishima menyipitkan matanya dan ekspresinya tampak agak murung; Meskipun preferensiku seharusnya tidak ada hubungannya dengan dia.

"Tapi kamu ditolak, kan ? Yah, kurasa tidak terlalu khawatir tentang itu"

"Sst, aku tidak butuh simpati murahanmu"

"Apa ? Tapi aku tidak bersimpati padamu"

Ekspresi muram Mishima kelihatannya tiba-tiba berubah menjadi senyum cerah.

"Sebaliknya, aku menganggap ini cukup beruntung !"

"Hah?"

Aku bertanya sebagai jawaban, tetapi Mishima menghindari pertanyaan itu dengan meneguk minumannya.

"Permisi ~ Bisakah aku nambah lagi ?"

"Hei, kau sudah banyak minum, kan ?"

"Aku masih bisa minum lebih banyak"

"Ah, baiklah ..."

Aku mengatakan bahwa aku akan menemaninya, jadi aku tidak bisa minum.

Yah, setidaknya aku datang dengan uang simpanan. Menghela nafas pada diriku sendiri, aku meningkatkan kecepatan dan meneguk bir gelasku.

Ketika Mishima mengatakan 'gadis', gambar Sayu muncul di benakku.

Sekarang aku memikirkannya, aku mulai bercukur karena apa yang dia katakan.

Dengan cepat aku berpikir, tapi pikiran ini dengan cepat menghilang dari benakku dengan seteguk bir lagi.


☆ ★ ☆ ★ ☆ ★


"Kau telat ..." Sayu mengomel ketika dia berguling di futonnya.

"Eh, maaf soal itu"

"Dan aku bahkan sudah membuatkan makan malamnya"

"Maafkan aku"

Aku hanya bisa meminta maaf dengan sungguh-sungguh.

Ketika aku kembali ke rumah, suasana hati Sayu sangat buruk.

Mishima adalah peminum berat.

Aku telah merencanakan untuk tinggal sampai Mishima puas, tapi kita terus minum dengan kecepatan yang sama selama lebih dari 2 jam.

Pada akhirnya, aku tidak minum bersamanya, dan malah mengabdikan diri untuk menyelesaikan apa yang tersisa dari lauknya.

Jadi, meskipun aku pulang kerja tepat waktu, baru jam 10 malam aku tiba di rumah.

Sayu mengangkat kepalanya dari kasur untuk menatapku, saat aku duduk di atas tumitku.

"... Apa dia seorang perempuan?"

"... Yah, bisa dibilang begitu"

Aku lalu menambahkannya bahwa dia junior di perusahaan yang tidak akan melakukan pekerjaannya dengan benar.

Meskipun dia adalah orang yang bertanya, dia sepertinya terkejut karena tersentak. Kemudian, dia menghembuskan napas berat dari hidungnya dan melanjutkan.

“Hmpf, aku mengerti. Kamu lebih suka pergi makan dengan gadis lain daripada makan malam yang aku masak"

"Aku benar-benar minta maaf tentang itu"

"Apa menyenangkan minum dengan seorang gadis ?"

Sudah hentikan topik yang melelahkan itu !

Yah, aku tidak bisa mengatakan itu dengan lantang. Memang benar dia telah membuat makan malam.

Menyadari bahwa aku tetap diam meminta maaf, Sayu mulai gemetar tak terkendali.

Aku mengangkat kepalaku untuk melihat apa yang terjadi, hanya untuk melihatnya menutup mulutnya dengan tangannya.

"He ... Heheh- ..."

Jadi sepertinya dia hanya menggodaku.

Sayu mencoba yang terbaik untuk mencegah dirinya dari tawa lucu.

"Ahaha, ahh, lucunya. Hei, aku tidak marah padamu atau apa pun"

"Ya ampun ... Jangan menggodaku seperti itu kan ?"

"Maksudku, Yoshida-san, itu agak lucu mendengar kamu mengatakan 'maaf tentang itu' dan 'Maafkan aku' dan hal-hal seperti itu"

Sayu mengangkat bagian atas tubuhnya dari kasur sambil terkekeh.

"Tapi pastikan kamu makan sarapan besok, oke ?"

"Ya, tentu saja"

Setelah itu, dia kembali berguling-guling di atas futonnya dengan senyum ringan.

"Hmm, sepertinya, kamu tidak terlihat mabuk sama sekali, Yoshida-san"

"Yah, aku harus kerja besok, jadi aku tidak akan minum cukup untuk membuat mabuk itu"

"Kamu benar-benar kacau pada hari kita bertemu"

"Ya ... aku patah hati waktu itu. Ditambah sehari setelah itu adalah liburan berbayar" kataku dengan ekspresi pahit di wajahku.

Sayu tertawa kecil dan bertanya.

"Apa kamu sangat menyukainya ?"

"... Sepertinya begitu"

Saat aku mengangguk sebagai jawaban, Sayu menunjukkan ekspresi puas diri dan melanjutkan.

"Bagian mana dari dirinya yang sebenarnya kamu sukai ?"

Bagian mana ...?

Hal pertama yang terlintas dalam pikiran adalah-

"Payudaranya"

"Kamu sangat berterus terang !" Sayu berteriak ketika dia mulai tertawa lagi.

Dia benar-benar berhasil menertawakan segalanya, bukan ? Dan aku menjadi seserius mungkin.

Baik itu Sayu atau Mishima, aku tidak terlalu pandai berurusan dengan gadis-gadis yang bisa mengendalikan alur percakapan.

Load Comments
 
close